RASA gurih daging ayam kampung berpadu dengan kuah ayam bening itu masih tertinggal di mulut hingga beberapa jam setelah menikmati soto. Itulah sensasi rasa Soto Tan Proyek di Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta, yang membuat orang ketagihan.
Soto Tan Proyek terletak di pinggir jalan raya utama Yogyakarta-Wonosari. Kunci kelezatan soto ini terletak pada kaldu ayam kampung yang gurih. Daging ayam yang direbus dan menciptakan kuah gurih ini konon harus asli ayam kampung. Dan itu pun haruslah ayam jago, yang masih muda pula. Setidaknya itu menurut Hardi (43) dan istrinya, Murni (37), sang pemilik warung.
Setelah dikuliti, daging ayam si jago muda itu utuh-utuh direbus bersama bumbu-bumbu selama 1,5 jam di dalam kuali air mendidih. Kuah rebusan digunakan sebagai kaldu soto, sedangkan daging ayam kampung segera digoreng hingga kering.
Tiap hari, 12-20 ekor ayam kampung direbus, kemudian digoreng hingga garing. Menggigit potongan daging ayam kampung goreng yang telah direndam kuah soto menghadirkan sensasi rasa gurih-gurih mantap.
Berbeda dengan soto ayam lain, kuah kaldu ayam Soto Tan Proyek ini hanya dibumbui bawang merah, bawang putih, lada, ketumbar, dan kemiri. Bumbu yang digiling halus ini hanya butuh tambahan garam sebagai penguat rasa.
Bumbu-bumbu pelengkap yang biasa ditemui di kuah soto seperti daun jeruk, daun salam, dan lengkuas tidak ditemui di Soto Tan Proyek. Menurut Murni, bumbu sejenis hanya digunakan untuk kaldu soto yang dagingnya menggunakan ayam potong. Ayam kampung asli tidak memerlukan tambahan bumbu penyedap karena memiliki keunggulan rasa. Gurih daging ayam kampung dengan seratnya yang kasar sangat kentara dan memikat rasa.
Cara memasak soto pun masih tradisional dengan menggunakan tungku kayu maupun tungku arang. Pagi-pagi benar, sekitar pukul 04.00, Hardi, Murni, dan dua pegawainya mulai membuat kaldu ayam. Seluruh racikan soto ayam kampung telah siap dihidangkan sejak pukul 06.00.
Cepat ludes
Setiap mangkuk soto ayam dihidangkan bercampur dengan nasi putih pulen. Beberapa potong irisan daging ayam dicampur bersama kuah, tomat, dan ditaburi bawang goreng. Jika tidak cukup dengan takaran daging ayam dalam soto, pesantap bisa mencomot potongan ayam goreng yang disajikan dalam piring terpisah di meja makan.
Harga per porsi soto cukup Rp 6.000. Jika ingin menambah potongan ayam goreng, cukuplah mengeluarkan Rp 5.000 untuk paha bawah atau Rp 9.000 untuk per potong dada. Gorengan tempe mendoan bisa dinikmati seharga Rp 500. Sebagai minuman boleh dicoba teh manis maupun jeruk manis.
Pelanggan warung Soto Tan Proyek cukup beragam, yaitu mulai dari pegawai kantoran, polisi, pengusaha, hingga ibu rumah tangga. Di hari libur, warung soto ini juga menjadi ajang kumpul bersama antaranggota keluarga. Meskipun tidak saling mengenal, para pengunjung biasanya saling menyapa dengan senyum.
Penataan ruang makan seluas 7 x 8 meter di warung Soto Tan Proyek cukup nyaman. Dengan mempertahankan bentuk bangunan tradisional pedesaan, suasana akrab pun terbangun. Bangunan tradisional dengan tembok kayu dan jendela berteralis kayu ini memungkinkan pengunjung selalu mendapat udara segar.
Warung ini hanya menyajikan empat meja dengan bangku panjang. Sebanyak 24 tamu bisa dilayani sekaligus di ruang makan tersebut. Jika pengunjung membeludak, Hardi dan Murni menyediakan emperan rumah yang memuat hingga delapan pengunjung.
Meskipun tidak pernah berpromosi lewat iklan, gurihnya Soto Tan Proyek telah menjadi pembicaraan dari mulut ke mulut. Maka, jika tak ingin kehabisan, datanglah sebelum tengah hari. Pasalnya, selewat tengah hari, soto kemungkinan besar akan ludes dilahap pelanggan. (Mawar Kusuma)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang